
PENASULAWESI.COM, SIGI – Kecamatan Lindu, Kabupaten Sigi, kembali mencatatkan prestasi gemilang dalam upaya meningkatkan kesehatan masyarakat. Berdasarkan laporan Kepala Puskesmas Kecamatan Lindu, Marniati, S.Kep., M.K.M., angka stunting di wilayah tersebut menunjukkan penurunan signifikan dibandingkan tahun sebelumnya.
Pada Agustus 2024, tercatat 51 kasus stunting, yang kemudian menurun menjadi 42 kasus pada Februari 2025. Penurunan lebih lanjut terlihat pada Agustus 2025, di mana jumlah kasus stunting menurun menjadi 30 orang. Data ini dilaporkan Marniati pada rapat rembuk stunting tingkat Kecamatan, berlangsung di Kantor Camat Lindu, Jumat, 26 September 2025.
Rapat ini dihadiri oleh berbagai pihak, termasuk Anggota Komisi II DPRD Sigi, pihak Polsek Kulawi, Camat Lindu, para kepala desa, tokoh masyarakat, dan tokoh agama di wilayah tersebut.
Marniati mengungkapkan bahwa penurunan angka stunting ini tidak terlepas dari dukungan lintas sektor, termasuk tokoh agama, TNI-Polri, Ketua PKK Kecamatan, hingga ke tingkat desa, Pemerintah Desa.

UPT Puskesmas Lindu telah melakukan berbagai upaya preventif dan kuratif untuk menangani stunting. Upaya preventif meliputi pemberian edukasi terkait masalah kesehatan, seperti pentingnya ASI eksklusif, pemberian makanan tambahan yang tepat, serta pola asuh yang tepat.
Puskesmas Lindu juga melakukan pemantauan pertumbuhan dan perkembangan balita serta ibu hamil secara rutin di posyandu dan memberikan tablet tambah darah bagi remaja putri dan ibu hamil.
Sementara itu, upaya kuratif dilakukan melalui intervensi gizi untuk memastikan pemenuhan asupan nutrisi yang cukup bagi balita dan ibu hamil dengan pemberian PMT.
“Contoh pemberian makanan tambahan PMT ini bersumber dari dana BOK Puskesmas dan Dana Desa,” jelas Marniati.
Puskesmas Lindu juga melakukan kunjungan rumah ke daerah-daerah dengan lokus stunting tinggi untuk mengidentifikasi masalah dan mencari solusi bersama lintas sektor.
Meski angka stunting telah menurun, Marniati menegaskan bahwa upaya penurunan stunting akan terus dilakukan hingga mencapai target zero stunting. Ia juga menyoroti beberapa faktor yang menyebabkan tingginya angka stunting, seperti pernikahan dini dan kurangnya fokus pemberian bantuan bahan pangan pada ibu hamil sehat.
Pasalnya, ibu hamil yang sehat pun dapat melahirkan bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) jika asupan nutrisinya tidak terpenuhi selama kehamilan.
“Perlu dibangun komitmen lintas sektor untuk menekan angka pernikahan dini dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat,” tegas Marniati. Dengan kerja sama yang baik, diharapkan Kecamatan Lindu dapat terus menjadi contoh bagi daerah lain dalam menangani masalah stunting. (Ardi)








