
PENASULAWESI.COM, PALU – Setelah memimpin Ikatan Pencak Silat Indonesia (IPSI) Sulawesi Tengah selama dua periode, Muhammad Irwan Lapatta resmi menutup masa tugasnya dan menyerahkan tongkat estafet kepemimpinan kepada tokoh muda Sulteng, Abcandra Muhammad Akbar Supratman.
Pergantian itu diputuskan melalui Musyawarah Provinsi (Musprov) VIII IPSI Sulteng yang digelar pada 6–7 Desember di Hotel Jazz Palu. Musprov berlangsung dinamis dan menjadi momentum penting bagi masa depan pembinaan pencak silat di Sulawesi Tengah.
Dalam penyampaian akhir masa jabatannya, Irwan secara terbuka mengungkap bahwa dua periode memimpin IPSI tidak pernah mudah. Selain menghadapi dampak bencana alam dan dinamika organisasi, ia juga bergulat dengan minimnya dukungan anggaran olahraga yang membuat sejumlah program pembinaan tidak berjalan maksimal.
“Program IPSI sangat terbatas karena minimnya dana dari Pemda dan KONI. Program sirkuit yang idealnya tiga kali setahun menjadi sulit direalisasikan karena keterbatasan anggaran,” kata Irwan.
Meski demikian, ia berharap kehadiran Abcandra yang memiliki jaringan kuat di tingkat pusat, provinsi, hingga kabupaten/kota dapat memberikan energi baru bagi IPSI Sulteng.
“Harapan kami, komunikasi yang baik dengan pusat dapat memperkuat pembinaan dan meningkatkan fasilitas IPSI ke depan. Ini bukan keinginan personal, tetapi aspirasi seluruh perguruan. Makanya 11 perguruan dan 5 Pemkab memberikan dukungan kepada beliau,” tutup Irwan.
Ia juga menekankan pentingnya regenerasi kepemimpinan demi menjaga keberlanjutan prestasi. Menurutnya, dukungan luas dari berbagai pihak kepada Abcandra menunjukkan bahwa IPSI Sulteng membutuhkan figur baru untuk membawa organisasi bergerak lebih cepat dan lebih kuat.
Musprov VIII kemudian menetapkan Abcandra Muhammad Akbar Supratman sebagai Ketua IPSI Sulteng masa bakti 2025–2030. Ia terpilih secara aklamasi setelah menjadi satu-satunya calon yang lolos seluruh tahapan verifikasi Tim Penjaringan dan Penyaringan (TPP). Dukungan dari 11 perguruan dan 5 pemerintah kabupaten/kota menjadikan proses pemilihannya sebagai salah satu yang paling solid sepanjang sejarah IPSI Sulteng.
Dalam arahan perdananya, Abcandra menyampaikan rasa terima kasih dan menegaskan bahwa amanah ini merupakan panggilan sebagai putra asli Sulawesi Tengah untuk membawa pencak silat menuju level pembinaan yang lebih profesional.
“Saya dipercayai dan diminta langsung oleh perguruan dan Pemkab untuk bersama-sama membangun IPSI Sulawesi Tengah. Sebagai putra daerah, ini menjadi panggilan untuk saya,” ujarnya.
Ia juga mengutip pesan Ketua Umum IPSI yang juga Presiden RI, Prabowo Subianto, bahwa mengurus olahraga adalah bentuk nyata kecintaan kepada bangsa.
“Mengurus olahraga adalah panggilan cinta tanah air. Ini bentuk komitmen kita membesarkan IPSI di daerah masing-masing, termasuk di Sulawesi Tengah,” jelasnya.
Abcandra menegaskan bahwa langkah awal kepemimpinannya akan berfokus pada penataan organisasi, penguatan sumber daya manusia, dan pembinaan atlet yang lebih terukur. Ia menyebut bahwa soliditas organisasi adalah fondasi utama untuk melahirkan atlet-atlet berkualitas.
Ia juga meminta komitmen penuh dari tim formatur untuk memberikan ruang gerak tanpa intervensi demi memastikan struktur kepengurusan yang benar-benar siap bekerja.
“Saya meminta komitmen untuk memberikan kewenangan sepenuhnya kepada saya dan jangan diintervensi. Kita perlu penataan yang betul-betul bisa menjadi gerbong bersama,” tegasnya.
Abcandra memasang target ambisius membawa Sulawesi Tengah menjadi tuan rumah Kejuaraan Nasional (Kejurnas) Pencak Silat. Menurutnya, peluang itu terbuka lebar karena Sulteng memiliki potensi atlet yang besar serta sejarah kontribusi senior-senior yang pernah mengharumkan nama bangsa.
“Ke depan, saya akan fokus kepada pengurus, perguruan, dan atlet sebagai ujung tombak IPSI. Saya juga sudah berkomunikasi agar Sulawesi Tengah bisa menjadi tuan rumah Kejurnas,” katanya.
Untuk mendukung pembinaan atlet, ia memastikan seluruh kebutuhan akan dikaji secara matang, termasuk opsi mendatangkan pelatih dari luar daerah. Selain itu, ia mengungkap telah bertemu dengan Menteri BUMN Erick Thohir untuk membahas dukungan terhadap sarana dan prasarana olahraga di Sulawesi Tengah.
“Hal-hal yang menyangkut kebutuhan atlet akan menjadi pertimbangan. Kontrak pelatih dari luar akan kami diskusikan dengan para senior dan perguruan. Kami ingin pembinaan berjalan optimal,” jelasnya.
Ia juga berencana mendorong transformasi Piala Menpora menjadi Kejurnas Pencak Silat, mengikuti perubahan tingkat nasional yang kini menjadikannya Piala Presiden.
Abcandra menutup arahannya dengan penegasan bahwa IPSI Sulteng tidak boleh menjadi ruang kepentingan politik.
“Untuk IPSI ini, saya tegaskan tidak ada kepentingan politik. Fokus kita adalah diplomasi budaya dan memperkenalkan Sulawesi Tengah di tingkat nasional maupun internasional,” katanya.
Abcandra berharap seluruh perguruan, pengurus, dan pemerintah daerah dapat bergerak bersama untuk meningkatkan prestasi atlet dan memperkuat posisi Sulteng di kancah pencak silat nasional. Amanah baru ini, menurutnya, adalah kesempatan untuk membawa para atlet menuju prestasi yang lebih tinggi dan membuat pencak silat Sulteng semakin dikenal luas. (*)








