PENASULAWESI.COM, SIGI – Pemerintah Desa Lewua, Kecamatan Kulawi Selatan, terus mengoptimalkan pengelolaan wisata Air Panas dan Air Terjun Maima sebagai upaya meningkatkan Pendapatan Asli Desa (PADes) sekaligus mendorong kesejahteraan masyarakat setempat.
Kepala Desa Lewua, Yudhi Tampai, menjelaskan bahwa meski kawasan wisata tersebut telah lama dikenal masyarakat, pengelolaan secara terarah dan berkelanjutan baru dilakukan dalam beberapa tahun terakhir.
“Sejak 2022 kami mulai serius mengelola wisata desa agar benar-benar menjadi sumber PADes. Hasilnya diharapkan kembali ke masyarakat, termasuk untuk mendukung pendidikan anak-anak kami,” ujar Yudhi.
Ia menuturkan, dampak ekonomi dari pengembangan wisata mulai dirasakan oleh warga, meskipun proses pengembangannya masih dilakukan secara bertahap. Salah satu kendala utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan anggaran, khususnya untuk perbaikan akses jalan menuju lokasi wisata.
“Akses jalan masih menjadi tantangan. Untuk sementara kami atasi dengan kerja bakti masyarakat. Sementara fasilitas di dalam kawasan wisata kami benahi melalui dana desa, seperti pembangunan jembatan, bantaran sungai, dan perbaikan bangunan yang terdampak bencana,” jelasnya.
Dalam pengelolaannya, pemerintah desa melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) juga telah menetapkan tarif retribusi masuk sebesar Rp5.000 bagi pengunjung dewasa, yang sudah termasuk biaya parkir.
Sementara itu, anak-anak dan warga Desa Lewua dibebaskan dari biaya masuk sebagai bagian dari edukasi wisata bagi masyarakat lokal.
Selain pengelolaan destinasi, pemerintah desa juga mulai merehabilitasi kios-kios UMKM milik warga yang sebelumnya terdampak bencana. Upaya ini dilakukan agar aktivitas ekonomi masyarakat kembali berjalan dan mampu mendukung geliat pariwisata desa.
Dengan dukungan pemerintah daerah, partisipasi aktif masyarakat, serta peran pers, wisata Air Panas dan Air Terjun Maima diharapkan dapat berkembang menjadi destinasi unggulan di Kabupaten Sigi dan memberikan manfaat nyata bagi peningkatan kesejahteraan warga desa. (***)








