Dari Jalan Terjal ke Kursi Parlemen, Fadlin dan Jejak Pengabdian yang Tak Pernah Putus

PENASULAWESI.COM, SIGI – Fadlin mengenal pahitnya hidup jauh sebelum namanya dikenal sebagai anggota DPRD Sigi dari Partai Gerindra. Ia lahir dan tumbuh dari keluarga sederhana, di mana perjuangan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah cerita yang akrab sejak usia muda. Hidup tidak memberinya kemewahan, namun justru menempanya dengan keteguhan.

Sebelum duduk di kursi legislatif, Fadlin adalah seorang wartawan. Profesi yang membawanya menyusuri banyak sudut kehidupan masyarakat Sigi, terutama mereka yang hidup jauh dari pusat perhatian.

Dengan catatan kecil dan kamera seadanya, ia menjalani hari-hari yang keras, penuh keterbatasan, namun sarat makna.

Sebagai wartawan, Fadlin tak jarang harus menempuh perjalanan panjang ke pelosok desa. Bersama beberapa rekan seprofesi, ia menjelajah wilayah-wilayah terpencil demi menggali informasi yang menyangkut kepentingan masyarakat. Jalan rusak, hujan, dan minimnya fasilitas kerap menjadi tantangan yang harus dihadapi.

“Kami berangkat bukan untuk terkenal, tapi agar suara masyarakat sampai ke meja pengambil kebijakan,” kenang Fadlin di satu kesempatan.

Lika-liku kehidupan sebagai wartawan mengajarkannya banyak hal. Kejujuran, keberanian, dan empati. Ia menyaksikan langsung bagaimana masyarakat kecil sering kali tak memiliki ruang untuk bersuara. Berita yang ia tulis bukan sekadar laporan, melainkan bentuk tanggung jawab moral kepada publik.

Dari lapangan itulah kesadaran politiknya tumbuh. Fadlin memahami bahwa perubahan tidak cukup hanya ditulis, tetapi juga harus diperjuangkan dari dalam sistem. Keputusan terjun ke dunia politik bukan ambisi pribadi, melainkan panggilan untuk melanjutkan pengabdian dalam ruang yang lebih luas.

Kini, sebagai anggota DPRD Sigi dari Partai Gerindra, Fadlin tetap membawa semangat yang sama. Ia dikenal dekat dengan masyarakat, mudah ditemui, dan tak canggung turun langsung ke lapangan.

Pengalaman hidup yang keras membuatnya peka terhadap persoalan rakyat kecil, mulai dari infrastruktur desa, akses pelayanan dasar, hingga kesejahteraan masyarakat.

Baginya, jabatan bukanlah tujuan akhir. Ia hanyalah alat untuk memperjuangkan aspirasi mereka yang selama ini terpinggirkan. “Saya pernah hidup di masa sulit. Karena itu saya tahu, kebijakan yang salah bisa sangat menyakitkan bagi rakyat,” ujarnya dengan nada tenang.

Jejak perjalanan Fadlin adalah potret bahwa kepemimpinan sejati lahir dari proses panjang, penuh luka dan pelajaran. Dari jalan terjal kehidupan, dari catatan seorang wartawan, hingga kini duduk di kursi parlemen, ia tetap membawa satu keyakinan, bahwa pengabdian tidak pernah mengenal batas peran. Dari rakyat ia belajar, dan untuk rakyat pula ia mengabdi. (Ardi)