PENASULAWESI.COM, PALU – Ketua Pengurus Cabang (PC) Nahdlatul Ulama (NU) Kabupaten Sigi, Irwan Lapatta, menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, organisasi kemasyarakatan, dan sektor swasta dalam menjawab tantangan pembangunan dan perubahan zaman, khususnya bagi generasi muda dan perempuan NU.
Hal itu disampaikan Irwan saat menghadiri kegiatan Latihan Kader Dasar PC Fatayat NU Kabupaten Sigi, Sabtu malam, 27 Desember 2025, di Hotel Zamrud.
Irwan menyebut Fatayat NU memiliki peran strategis dalam penguatan sosial, keagamaan, dan pembangunan sumber daya manusia. Menurut Irwan, pemerintah tidak mungkin bekerja sendiri dalam menjalankan program pembangunan. Diperlukan mitra kerja yang kuat, salah satunya organisasi keagamaan seperti NU, Ansor, Fatayat, dan seluruh badan otonom NU.
“Pemerintah harus berjalan bersama masyarakat dan organisasi. Tanpa kolaborasi, program apa pun tidak akan berjalan maksimal,” tegas Irwan.
Dia mengungkapkan, saat menjabat sebagai pimpinan daerah di Kabupaten Sigi, dirinya mendorong NU dan Ansor menjadi model kolaborasi pembangunan. Sejumlah kegiatan keagamaan dan kebudayaan, seperti Festival Maulid, pembinaan hafiz Al-Qur’an lintas usia, hingga penguatan pendidikan keagamaan, terus didorong sebagai kekuatan sosial masyarakat.
Irwan juga menyoroti tantangan besar ke depan, terutama memasuki era bonus demografi, digitalisasi, dan Indonesia Emas 2045. Irwan menilai penguasaan keterampilan digital menjadi kebutuhan mutlak, khususnya bagi generasi muda dan perempuan.
“Tantangan ke depan sangat besar. Skill digital harus dikuasai, karena hampir semua sistem kehidupan sudah berbasis digital,” ujarnya.
Selain digitalisasi, Irwan menyinggung persoalan kemiskinan, infrastruktur, dan pendidikan yang masih menjadi pekerjaan rumah besar, terutama di wilayah pelosok. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia adalah investasi jangka panjang yang hasilnya baru terlihat puluhan tahun ke depan.
Dalam kesempatan itu, Irwan juga berbagi pengalaman perjalanan hidup dan proses panjang yang ia jalani hingga menjadi pimpinan daerah. Dirinya menekankan bahwa keberhasilan bukan semata soal tujuan, tetapi tentang kesungguhan menjalani proses.
“Saya tidak pernah bercita-cita langsung jadi pimpinan. Tapi saya percaya, kalau prosesnya benar, tujuannya akan mengikuti,” ungkapnya.
Irwan juga menaruh harapan besar kepada kader perempuan NU agar lebih berani tampil dan mengambil peran strategis di ruang publik, termasuk politik dan pemerintahan. Menurutnya, keterwakilan perempuan masih sangat terbatas, padahal jumlah perempuan mencapai hampir separuh populasi.
“Perempuan NU harus berani menerobos batas. Tidak boleh ragu mengambil peran,” pesannya.
Menutup sambutannya, Irwan menegaskan komitmennya terhadap program pengembangan sumber daya manusia, termasuk pengiriman santri ke luar negeri, program pendidikan pesantren, hingga penguatan layanan kesehatan dan kerja sama pendidikan nasional.
“SDM itu tidak terlihat hasilnya hari ini, tapi akan menentukan wajah daerah 50 tahun ke depan,” tandas Irwan. (**)








