Kisah Haru Irma Haflianti Yangka dan Ibu Buliti, Lansia di Pelempea Pipikoro

PENASULAWESI.COM, SIGI– Di balik hamparan perbukitan Desa Pelempea, Kecamatan Pipikoro, yang hijau dan tenang, tersimpan kisah haru yang menggetarkan jiwa. Seorang perempuan lanjut usia bernama Buliti Tate, dengan usia yang telah renta, menjalani hidup dengan penuh keterbatasan.

Langkahnya terhenti, penglihatannya memudar, namun di balik semua itu, tersimpan keteguhan hati dan keikhlasan yang luar biasa.

Irma Haflianti Yangka, Anggota DPRD Kabupaten Sigi dari Fraksi NasDem, menyempatkan diri menjenguk Ibu Buliti di rumah sederhananya usai melaksanakan kegiatan reses, belum lama ini.

Dalam suasana penuh kehangatan, Irma duduk di samping sang lansia, menggenggam tangannya, dan mendengarkan kisah hidup yang sarat makna.

“Tuhan tidak mengizinkan saya berjalan dan melihat dunia di luar sana, karena Tuhan sudah mempersiapkan saya untuk berjalan dan melihat keindahan surganya,” ucap Ibu Buliti dengan suara lembut namun penuh ketenangan.

Kalimat itu membuat Irma tak kuasa menahan air mata, hatinya tersayat mendengar betapa tulus dan ikhlasnya Ibu Buliti dalam menerima takdir.

“Saya menangis mendengar kata-kata beliau. Dari Ibu Buliti, saya belajar bahwa hidup harus dijalani dengan rasa syukur, seberat apa pun keadaannya,” tutur Irma dengan haru.

Sebagai wujud kepedulian, Irma segera berkoordinasi dengan Dinas Sosial Kabupaten Sigi untuk memproses bantuan kursi roda bagi Ibu Buliti.

Pertemuan itu menjadi pengingat bagi semua pihak bahwa kebahagiaan sejati tidak selalu datang dari kelimpahan materi, melainkan dari hati yang penuh syukur dan ikhlas.

Dalam keterbatasannya, Ibu Buliti Tate justru mengajarkan makna kehidupan yang sesungguhnya: berserah tanpa putus asa, menerima tanpa mengeluh, dan tetap tersenyum dalam ujian.

“Saya berharap kisah Ibu Buliti ini dapat membuka mata kita semua untuk lebih peduli terhadap para lansia di sekitar kita. Mereka adalah orang-orang yang telah berjuang panjang dalam hidupnya, dan kini saatnya kita hadir untuk mereka,” tambah Irma dengan penuh empati.

Kisah sederhana di pelosok Desa Pelempea ini menjadi cerminan nyata bahwa kepedulian sosial dan empati masih tumbuh di tengah masyarakat. Semoga langkah kecil ini menjadi inspirasi bagi semua pihak untuk terus menebarkan kasih, perhatian, dan semangat berbagi kepada sesama. (***)