Langkah Rindu Menuju Makam Guru Tua Jelang Haul ke-58

PENASULAWESI.COM, PALU — Menjelang peringatan Haul ke-58 Sayyid Idrus bin Salim Aljufri, kawasan makam pendiri Alkhairat itu mulai dipadati jamaah dari berbagai daerah. Sejak pagi hari, langkah-langkah peziarah terus berdatangan, membawa doa dan kerinduan kepada sosok ulama yang dikenal luas sebagai Guru Tua.

Ziarah menjelang haul kembali menjadi momen penting bagi para Abnaulkhairaat dan masyarakat umum. Di area makam, suasana khidmat terasa melalui lantunan ayat suci Al-Qur’an, bacaan Surah Yasin, serta tahlil yang dipanjatkan secara bergantian oleh para jamaah.

Pantauan di lokasi menunjukkan, satu hari sebelum puncak acara, arus kedatangan peziarah semakin meningkat. Mereka datang secara berkelompok maupun individu, dengan berbagai latar belakang dan tujuan, namun memiliki niat yang sama, menghormati dan mengenang perjuangan Guru Tua dalam mengembangkan pendidikan Islam di kawasan Indonesia Timur.

Abdurahman, jamaah asal Bolaang Mongondow Utara, mengaku ziarah ke makam Guru Tua menjadi bagian yang tidak terpisahkan setiap kali menghadiri haul.

“Alhamdulillah masih diberi kesempatan hadir tahun ini. Bisa kembali berziarah dan melepas rindu, meskipun perjalanan kami cukup jauh,” ujarnya.

Ia menambahkan, ziarah tersebut tidak hanya dilakukan saat haul, tetapi juga setiap kali berkunjung ke Palu.

Sementara itu, Mohammad Hasan Filabuya, pimpinan Pondok Pesantren Alkhairaat Bintauna, menilai ziarah ke makam Guru Tua sebagai bentuk kecintaan sekaligus penghormatan terhadap jasa besar pendiri Alkhairaat tersebut.

Menurutnya, perjuangan Sayyid Idrus bin Salim Aljufri dalam menyebarkan pendidikan Islam patut menjadi teladan. Di tengah keterbatasan sarana dan prasarana pada masanya, Guru Tua tetap konsisten berdakwah dari satu daerah ke daerah lain.

“Semangat perjuangan beliau menjadi pelajaran bagi generasi sekarang untuk terus menjaga dan melanjutkan nilai-nilai pendidikan Islam,” ungkapnya.

Pelaksanaan Haul ke-58 ini diharapkan berlangsung khidmat dan lancar. Selain menjadi ajang silaturahmi, momentum ini juga memperkuat nilai kebersamaan serta mengenang kembali warisan perjuangan Guru Tua.

Ziarah yang terus mengalir hingga menjelang puncak haul menjadi gambaran kuat bahwa jarak bukanlah penghalang. Bagi para jamaah, setiap langkah menuju makam Guru Tua adalah bagian dari upaya menjaga kedekatan batin dengan sosok ulama yang telah memberi pengaruh besar bagi masyarakat. (***)