Niat Tulus Sang Guru dari Poso dan Makna Berbagi di Haul Guru Tua

PENASULAWESI.COM, PALU – Fajar belum sepenuhnya merekah saat Wahana, memulai perjalanannya dari Kabupaten Poso menuju Kota Palu, dua hari sebelum puncak pelaksanaan Haul Guru Tua ke-58. Jalan panjang yang membentang tidak menjadi penghalang.

Di balik langkahnya, ada niat tulus yang ia bawa, menghadiri haul dan mengambil bagian dalam keberkahan yang dirindukan banyak orang.

Wahana bukan sekadar jamaah biasa. Ia adalah seorang guru mata pelajaran di SMP Satap Poso sekaligus alumni Madrasah Aliyah Alkhairat Pusat Palu tahun 1996. Latar belakang itu membuat perjalanannya terasa semakin bermakna.

Baginya, haul adalah ruang untuk kembali mengingat perjuangan dan keteladanan Sayyid Idris bin Salim Al-Jufri, ulama besar yang telah mewariskan nilai keilmuan dan akhlak bagi generasi umat.

Di tengah ribuan manusia yang memadati lokasi kegiatan, Wahana hadir dengan cara yang sederhana namun penuh arti. Ia membawa kurma, lalu membagikannya satu per satu kepada para tamu. Tidak ada kemewahan, tidak pula sorotan berlebih, hanya ketulusan yang mengalir dari niat untuk berbagi.

“Jauh dari Poso untuk menghadiri Haul Guru Tua, untuk mengingat kembali bagaimana perjuangan beliau. Selain itu, momen ini juga untuk menjalin silaturahim sesama abna Alkhairat,” tuturnya pelan.

Baginya, berbagi bukan soal besar kecilnya pemberian. Ada nilai yang lebih dalam, memuliakan tamu dan menjaga semangat kebersamaan.

“Momen ini juga mengambil bagian untuk memuliakan tamu-tamu Guru Tua, walau hanya berupa kurma,” lanjutnya dengan senyum sederhana.

Aksi kecil itu justru menghadirkan kehangatan di tengah lautan manusia. Beberapa jamaah menerima kurma itu dengan mata berbinar, seakan memahami bahwa yang dibagikan bukan sekadar buah, melainkan juga keikhlasan.

Haul Guru Tua setiap tahunnya memang selalu menghadirkan kisah-kisah seperti ini. Kisah yang mungkin tak terdengar di atas panggung, tetapi hidup di antara langkah-langkah para peziarah.

Dari berbagai daerah, mereka datang membawa doa, harapan, dan cinta kepada sang guru. Kehadiran Wahana menjadi satu di antara banyak potret tentang bagaimana nilai keteladanan itu terus berdenyut.

Perjalanan jauh yang ia tempuh bukan sekadar perpindahan tempat, melainkan perjalanan batin tentang kesetiaan, penghormatan, dan keinginan untuk tetap terhubung dengan warisan kebaikan.

Di tengah hiruk-pikuk acara, kurma yang ia bagikan mungkin tampak sederhana. Namun dari tangan seorang guru yang menempuh perjalanan panjang, ia menjelma menjadi simbol, bahwa niat tulus, sekecil apa pun, selalu menemukan jalannya untuk memberi makna. ***