PENASULAWESI.COM, SIGI – Di sebuah rumah sederhana di Desa Ramba, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Patyudin menyimpan harapan besar untuk mengubah nasib keluarganya. Pria yang memiliki keterbatasan fisik sejak lahir ini menggantungkan asa pada satu alat sederhana: sebuah mesin jahit.
Patyudin dikenal sebagai sosok pekerja keras. Meski memiliki keterbatasan, ia memiliki keahlian menjahit pakaian yang diperoleh sejak lama. Keahlian itu sempat menjadi tumpuan hidupnya, sebelum bencana gempa bumi tahun 2018 merenggut mesin jahit miliknya dan memupus usaha yang sedang ia bangun.
Sejak saat itu, ayah lima anak ini hanya mampu memenuhi kebutuhan sehari-hari dengan mencari kelapa untuk dijual kembali. Penghasilan yang tak menentu membuat Patyudin kesulitan memenuhi kebutuhan keluarga, terlebih untuk memulai kembali usaha jahit yang pernah menjadi sumber penghidupannya.
Keinginan Patyudin untuk bangkit mendapat perhatian dari anggota DPRD Kabupaten Sigi, Fadlin. Saat berkunjung langsung dan berdialog dengan Patyudin, Fadlin menyaksikan semangat besar yang tersimpan di balik keterbatasan fisik yang dimilikinya.
“Patyudin memiliki keahlian menjahit pakaian. Namun karena keterbatasan fisik dan tidak memiliki mesin jahit, ia kesulitan untuk meningkatkan taraf hidupnya,” ujar Fadlin usai pertemuan tersebut.
Menurut Fadlin, bantuan mesin jahit dari Pemerintah Daerah Sigi akan sangat berarti bagi Patyudin. Selain membuka kembali usaha jahit, bantuan tersebut juga berpotensi menciptakan kemandirian ekonomi bagi Patyudin dan keluarganya.
Fadlin berharap Bupati Sigi melalui dinas terkait dapat menyahuti proposal bantuan mesin jahit yang rencananya akan diajukan oleh Patyudin kepada Pemda Sigi.
“Dari keterangan yang saya peroleh, Patyudin sebelumnya pernah memiliki mesin jahit. Namun pascagempa 2018, mesin tersebut rusak dan tidak bisa digunakan lagi. Dengan adanya mesin jahit baru, ia bisa kembali bekerja dan meningkatkan kesejahteraan keluarganya,” tambah Fadlin.
Kini, Patyudin hanya berharap uluran tangan pemerintah daerah agar ia bisa kembali duduk di depan mesin jahit, menjahit bukan hanya kain, tetapi juga harapan untuk masa depan keluarganya. (Ardi)














