Buka Workshop, Ketua TP-PKK Sigi: Membangun Perdamaian dan Keamanan melalui Peran Perempuan

penasulawesi.com ||SIGI – Ketua Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Kabupaten Sigi, Siti Halwiah, secara resmi membuka kegiatan Workshop Penguatan Kapasitas Implementasi Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan, berlangsung di Aula Latoratima, Jalan Lando, Desa Kalukubala, Kabupaten Sigi, pada Sabtu (26/4/2025).

Workshop ini diselenggarakan oleh Perkumpulan Lingkar Belajar untuk Perempuan (LIBU Perempuan), bekerja sama dengan Pemerintah Daerah Sigi, AMAN Indonesia, dan UN Women.

Dalam sambutannya, Siti Halwiah menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya kegiatan tersebut.

Ia menekankan pentingnya pelatihan ini dalam memperkuat peran perempuan dalam membangun perdamaian dan keamanan yang berkelanjutan.

“Ini sangat penting untuk diikuti secara serius sampai selesai, karena Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan juga telah menyampaikan bahwa pada forum UN Women 2025, fokus global adalah pada kesetaraan gender, pemberdayaan perempuan, serta peran mereka dalam pembangunan berkelanjutan,” ujarnya.

Ia juga menyoroti pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan berbagai pihak, termasuk UN Women, dalam mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB).

“Sejak 25 September 2015, sebanyak 193 negara telah menyepakati 17 tujuan, 167 target, dan 241 indikator pembangunan global. Beberapa di antaranya adalah penghapusan kemiskinan, pengakhiran kelaparan, kesehatan dan kesejahteraan yang baik, pendidikan bermutu, serta kesetaraan gender,” jelasnya.

Siti Halwiah menjelaskan bahwa UN Women adalah lembaga Perserikatan Bangsa-Bangsa yang berkomitmen untuk mencapai kesetaraan gender dan pemberdayaan perempuan di seluruh dunia.

Lembaga ini berperan penting dalam menciptakan lingkungan yang memungkinkan setiap perempuan dan anak perempuan menjalankan hak asasinya dan meraih potensi mereka secara penuh.

Ia juga menekankan pentingnya peran perempuan sebagai agen perubahan dalam berbagai isu, termasuk pengentasan kemiskinan, pendidikan, kesehatan, dan perlindungan lingkungan.

Menurutnya, perempuan yang berdaya adalah kunci bagi terciptanya pembangunan dan perdamaian yang inklusif.

“Perempuan harus terlibat aktif dalam mencegah konflik, menyelesaikannya, dan berperan dalam proses rekonstruksi pascakonflik. Kita juga perlu membahas isu-isu kekerasan berbasis gender seperti KDRT, kekerasan seksual, dan perdagangan orang, karena hal ini merupakan penghambat utama dalam pembangunan dan perdamaian,” kata Siti Halwiah.

Ia menegaskan bahwa UN Women menyediakan berbagai program dan dukungan untuk memperkuat kapasitas perempuan dalam berpartisipasi pada proses perdamaian.

Lebih lanjut, kata dia, komitmen semua pihak-baik pemerintah, masyarakat sipil, hingga komunitas lokal sangat diperlukan untuk menciptakan lingkungan yang aman dan inklusif bagi perempuan.

“Dengan memohon ridho Allah SWT, Tuhan Yang Maha Esa, dan mengucapkan Bismillahirrahmanirrahim, kegiatan Workshop Penguatan Kapasitas Implementasi Perempuan, Perdamaian, dan Keamanan Tahun 2025 secara resmi saya buka,” tutupnya.

Sementara itu, Direktur Perkumpulan LIBU Perempuan, Dewi Rana Amir, dalam sambutannya menyampaikan bahwa workshop ini merupakan kelanjutan dari kegiatan sebelumnya.

“Mengingat pentingnya penguatan kapasitas untuk implementasi agenda Women, Peace, and Security serta penguatan jaringan advokasi kelompok perempuan dan organisasi masyarakat sipil di Sulawesi Tengah, khususnya di Kabupaten Sigi, maka kami menyelenggarakan kembali workshop ini sebagai bentuk penyegaran dan penguatan agenda tersebut,” kata Dewi Rana.

Ia menegaskan bahwa kolaborasi antara LIBU Perempuan, AMAN Indonesia, dan UN Women merupakan langkah nyata untuk terus membumikan dan memajukan agenda perdamaian yang berperspektif gender di wilayah lokal. (*)