
PENASULAWESI.COM, SIGI – Dalam upaya menurunkan angka stunting di Kabupaten Sigi, Tim Penggerak Pemberdayaan dan Kesejahteraan Keluarga (TP-PKK) Sigi terus menggencarkan sosialisasi, khususnya kepada ibu hamil dengan kondisi Kurang Energi Kronik (KEK).
Kegiatan sosialisasi tersebut dilaksanakan di kediaman Ketua TP-PKK Sigi, Hj. Halwiah, yang berlokasi di Jalan Poros Palu-Kulawi, Desa Kota Pulu, Kecamatan Dolo, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, pada Kamis (31/7/2025).
Pada kesempatan itu Ketua PKK Sigi juga didampingi oleh Staf Ahli PKK, Roro Istanti dan beberapa angota PKK lainya.
Dalam kegiatan itu, para ibu hamil dengan risiko KEK tidak hanya mendapat edukasi tentang bahaya stunting, tetapi juga menerima bantuan makanan tambahan berbasis pangan lokal bergizi.
“Fokus hari ini adalah mengumpulkan ibu hamil yang mengalami KEK karena mereka memiliki risiko melahirkan anak stunting. Hadir juga kader PKK, bidan desa, Ketua PKK desa dan kecamatan, serta seluruh anggota TP-PKK Kabupaten Sigi,” ujar Hj. Halwiah.
Ia menjelaskan, kegiatan ini sekaligus membahas data by name by address (BNBA) stunting dan data ibu hamil KEK per 30 Juli.
TP-PKK Sigi, lanjut Halwiah, akan terus bergerak secara aktif, bahkan merencanakan kunjungan dari rumah ke rumah (door to door) untuk memastikan intervensi tepat sasaran setelah data tervalidasi.
“Hari ini kita mulai dari Kecamatan Dolo. Kami sengaja mengundang ibu hamil KEK karena mereka kelompok penting dalam pencegahan stunting. Jika ibu hamil tidak mendapatkan asupan gizi cukup, maka besar kemungkinan anak yang lahir akan mengalami stunting,” jelasnya.
Menurut Halwiah, tren angka stunting di Sigi belum stabil, ia menyampaikan keprihatinannya atas meningkatnya kembali angka stunting di Sigi pada tahun ini.
“Angka stunting di Sigi pernah menurun sejak 2021 hingga 2023, tapi tahun 2024 justru naik tajam menjadi 33 persen. Ini menunjukkan bahwa penanganan harus lebih intensif dan berkelanjutan,” ungkapnya.
Berdasarkan data Dinas Kesehatan Sulawesi Tengah, lima daerah di provinsi ini mengalami kenaikan kasus stunting pada tahun 2024. Kabupaten Buol tercatat tertinggi dengan 36,9 persen, disusul Sigi 33 persen, Banggai Kepulauan 28,4 persen, Banggai Laut 26,6 persen, dan Kota Palu 25,6 persen. Di Sigi sendiri, kenaikan mencapai 6,6 persen dibanding tahun 2023 yang tercatat sebesar 26,4 persen.
Olehnya itu, kata Halwiah, dalam upaya pencegahan stunting bisa dimulai sejak dalam kandungan melalui intervensi gizi pada ibu hamil KEK. Namun, intervensi tersebut tidak harus melalui makanan mahal.
“Kita edukasi ibu-ibu agar bisa mengonsumsi makanan bergizi dari bahan lokal, seperti sayur mayur, ikan, dan makanan rumah tangga lainnya yang bernutrisi,” ujarnya.
TP-PKK Sigi juga memetakan data bantuan sosial yang telah diterima ibu hamil untuk menghindari ketimpangan.
“Ada yang sudah menerima MBG (Makan Bergizi Gratis), ada juga yang dapat BLT. Nah, mereka yang belum menerima bantuan inilah yang akan kita dampingi lebih lanjut,” kata Halwiah.
Ia juga menyoroti perlunya sinkronisasi data dari berbagai sumber seperti DTKS, P3KE, dan PPGM agar intervensi bisa tepat sasaran.
“Jika datanya valid, intervensinya akan lebih baik. Tapi kalau datanya tumpang tindih atau tidak akurat, maka bantuannya bisa salah sasaran,” ujarnya.
Halwiah berharap masyarakat juga berperan aktif dalam mendukung program ini.
“Kalau ada keluarga atau tetangga yang belum dapat bantuan, laporkan ke kami. Nanti kami fasilitasi ke pemerintah desa agar bisa masuk dalam sistem,” pungkasnya. (**)








