Bupati Sigi Ajak Masyarakat Lestarikan Budaya dan Kuliner Lokal Melalui Festival Utadada

penasulawesi.com, SIGI – Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae, menegaskan komitmen Pemerintah Kabupaten Sigi dalam mengembangkan potensi budaya dan kuliner daerah sebagai kekuatan pariwisata yang mampu mengangkat nama daerah hingga tingkat nasional.

Hal tersebut disampaikan saat memberikan sambutan pada pembukaan Festival Utadada di Desa Balane, Kecamatan Kinovaro, Senin (1/6/2026).

Bupati Rizal menyampaikan bahwa Kabupaten Sigi memiliki kekayaan budaya yang sangat beragam dan perlu terus digali serta dikembangkan sebagai daya tarik wisata.

“Begitu banyak budaya yang ada di daerah kita. Ini harus terus kita gali dan lestarikan karena menjadi salah satu penunjang utama sektor pariwisata Kabupaten Sigi. Melalui festival seperti ini, kita ingin memperkenalkan kekayaan budaya dan kuliner kita kepada masyarakat yang lebih luas,” ujarnya.

Bupati menjelaskan bahwa Festival Utadada menjadi momentum penting untuk memperkuat identitas budaya lokal, khususnya kuliner khas Utadada Ayam yang dikenal berasal dari wilayah Kinovaro, terutama Desa Balane dan Porame.

“Utadada ayam merupakan warisan budaya yang harus kita pertahankan dan kembangkan. Ini menjadi ciri khas daerah kita yang memiliki nilai budaya sekaligus potensi ekonomi bagi masyarakat,” katanya.

Selain Festival Utadada, Pemerintah Kabupaten Sigi juga telah menyiapkan berbagai agenda festival budaya dan wisata di sejumlah kecamatan. Di antaranya Festival Budaya Tomarabola yang direncanakan berlangsung pada 22 Desember bertepatan dengan Hari Ulang Tahun Kecamatan Marawola.

Pimpinan dan Anggota DPRD Kabupaten Sigi bersama Anggota DPRD Pasangkayu yang juga hadir dalam festival Utadada di Desa Balane. (Dok: PS)

Selanjutnya, Festival Nokilalaki yang akan digelar pada bulan September dengan berbagai atraksi budaya dan olahraga alam, Festival Danau Lindu yang menjadi agenda tahunan, serta Festival Ikan Mujair di Kecamatan Dolo.

Menurut Bupati, seluruh festival tersebut akan menjadi bagian dari strategi pemerintah daerah dalam membangun sektor pariwisata berbasis budaya dan kearifan lokal.

“Festival-festival ini akan menjadi event tahunan yang memperkaya destinasi wisata Kabupaten Sigi. Kita ingin setiap kecamatan memiliki identitas budaya dan wisata yang dapat menjadi daya tarik bagi wisatawan,” jelasnya.

Bupati juga menyoroti potensi wisata di Kecamatan Kinovaro yang dinilai memiliki banyak destinasi menarik, termasuk ikon wisata Tangga Seribu yang dapat dikembangkan sebagai tujuan kunjungan wisatawan.

Ia berharap pelaksanaan festival ke depan tidak hanya terpusat di lapangan, tetapi juga dapat dilaksanakan di lokasi-lokasi wisata yang memiliki nilai sejarah dan budaya sehingga mampu memberikan pengalaman yang lebih menarik bagi pengunjung.

Dalam kesempatan tersebut, Bupati turut mengapresiasi dukungan Balai Pelestarian Kebudayaan serta berbagai pihak yang terus membantu pelestarian warisan budaya di Kabupaten Sigi. Menurutnya, berbagai peninggalan budaya yang ada dapat menjadi destinasi wisata edukatif yang memperkaya sektor pariwisata daerah.

Selain membahas pengembangan budaya dan pariwisata, Bupati juga menyampaikan sejumlah capaian Pemerintah Kabupaten Sigi. Salah satunya adalah prestasi Kabupaten Sigi yang berhasil meraih penghargaan nasional dalam pengendalian inflasi daerah dan memperoleh insentif sebesar Rp3 miliar dari pemerintah pusat.

“Prestasi ini merupakan hasil kerja bersama seluruh jajaran pemerintah daerah, Forkopimda, pelaku usaha, petani, dan masyarakat yang telah menjaga stabilitas harga dan ketersediaan bahan pokok di Kabupaten Sigi,” ungkapnya.

Menutup sambutannya, Bupati mengajak seluruh masyarakat untuk terus menjaga keharmonisan sosial yang selama ini menjadi kekuatan Kabupaten Sigi serta mendukung berbagai program pengembangan pariwisata dan budaya daerah.

“Melalui pelestarian budaya, pengembangan pariwisata, dan pemberdayaan UMKM, kita berharap dapat membuka lapangan kerja, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta mengurangi angka kemiskinan di Kabupaten Sigi,” pungkasnya. (Ardi)