
PENASULAWESI.COM, SIGI – Di usia 60 tahun, Ibu Marni masih harus berjibaku dengan kerasnya kehidupan. Warga Dusun I, Desa Bangga, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi ini bertahan hidup dengan cara yang tak biasa, memungut sisa-sisa jagung di ladang orang lain demi bisa makan setiap hari.
Dari pengakuan warga disekitarnya, setiap musim panen tiba, Ibu Marni menunggu hingga para petani selesai memetik hasilnya. Setelah ladang dianggap bersih dan ditinggalkan, barulah ia datang dengan langkah pelan sambil membawa keranjang sederhana. Jagung-jagung yang tercecer dan tak lagi terpakai dikumpulkannya satu per satu.
Dari sisa panen itulah ia menggantungkan hidup. Jagung yang terkumpul kemudian dijual atau ditukar untuk membeli beras serta kebutuhan pokok lainnya. Hasilnya tidak menentu, tergantung berapa banyak jagung yang berhasil ia dapatkan. Namun bagi Ibu Marni, itu sudah cukup untuk memastikan dirinya bisa makan hari itu.
Selain persoalan ekonomi, kondisi tempat tinggal Ibu Marni juga jauh dari kata layak. Rumah sederhana yang ditempatinya berdiri dengan banyak keterbatasan. Beberapa bagian bangunan mulai rapuh dimakan usia. Dapurnya bahkan telah rubuh dan tak lagi bisa digunakan sebagaimana mestinya.
Saat hujan turun, air dengan mudah masuk ke dalam rumah. Ketika malam dingin datang, tak ada perlindungan memadai untuk menghalau udara yang menusuk. Kondisi tersebut membuat rumah yang seharusnya menjadi tempat berlindung justru terasa tidak aman.

Ironisnya, selama tinggal di Desa Bangga, Ibu Marni mengaku belum pernah merasakan bantuan perbaikan rumah atau program bedah rumah, baik dari pemerintah desa maupun Pemerintah Kabupaten Sigi. Bantuan yang pernah ia terima hanya Bantuan Langsung Tunai (BLT) Dana Desa.
Rumah yang kini ia tempati bukanlah hasil program resmi, melainkan buah kepedulian warga sekitar yang bergotong royong membangunnya dengan kemampuan seadanya. Meski demikian, bangunan tersebut masih sangat membutuhkan perbaikan, terutama pada bagian dapur dan struktur utama yang mulai melemah.
Hari-hari Ibu Marni berjalan dalam kesederhanaan. Tanpa banyak keluhan, ia tetap berusaha menjalani hidup dengan apa yang ada. Namun kebutuhan akan tempat tinggal yang aman dan layak menjadi hal mendesak yang tak bisa lagi diabaikan.
Kisah Ibu Marni menjadi potret nyata bahwa di tengah pembangunan yang terus berjalan, masih ada warga yang belum tersentuh bantuan perumahan layak huni.
Harapan kini tertuju pada kepedulian berbagai pihak agar perempuan tangguh ini dapat merasakan rumah yang kokoh dan dapur yang layak untuk memasak. Bagi Ibu Marni, rumah yang aman bukanlah tentang kemewahan, melainkan tentang rasa tenang untuk menjalani sisa usia dengan lebih bermartabat.(***)








