Belum Tersentuh Bansos,Warga Desa Poi Ini Bertahan di Tengah Keterbatasan

Kondisi rumah Moh Ali di Desa Poi yang beratap daun rumbia. (Foto:Pena Sulawesi)

penasulawesi.com, SIGI – Di tengah derasnya program bantuan sosial yang terus digulirkan pemerintah, masih ada warga yang harus menjalani hari-hari dalam keterbatasan. Di Desa Poi, Kecamatan Dolo Selatan, Kabupaten Sigi, Mohamad Ali bersama keluarganya masih menanti hadirnya perhatian pemerintah yang selama ini belum mereka rasakan.

Mohamad Ali merupakan satu dari sekian kepala keluarga mualaf di Desa Poi yang mengaku belum pernah menerima bantuan sosial pemerintah, baik Program Keluarga Harapan (PKH), bantuan pangan, maupun program bantuan lainnya.

Bagi keluarga Mohamad Ali, bertahan hidup bukan sekadar tentang memenuhi kebutuhan hari ini, tetapi juga tentang menjaga harapan untuk hari esok. Di tengah kondisi ekonomi yang serba terbatas, kebutuhan pangan menjadi beban yang harus dipikul dengan kemampuan seadanya.

Mohamad Ali sebelumnya berasal dari Desa Palintuma, Kecamatan Pinembani, Kabupaten Donggala. Pada 2022, ia bersama 23 kepala keluarga lainnya memutuskan dan memilih memulai lembaran kehidupan baru di Desa Poi.

Keputusan itu membawa harapan akan kehidupan yang lebih baik. Namun, perjalanan membangun kehidupan baru ternyata tidak selalu mudah. Keterbatasan ekonomi masih menjadi bagian dari keseharian yang harus mereka hadapi.

Kepada wartawan, Mohamad Ali menuturkan bahwa dirinya telah beberapa kali mengikuti pendataan yang dilakukan aparat desa, termasuk oleh kepala dusun. Namun, hingga kini namanya belum juga tercantum sebagai penerima bantuan sosial.

“Saya sudah didata oleh kepala dusun, tetapi sampai sekarang belum pernah menerima bantuan apa pun berupa Bansos. Saya juga butuh bantuan untuk bisa makan bersama keluarga,” ujarnya.

Kondisi ekonomi yang serba terbatas membuat kebutuhan pangan menjadi persoalan serius bagi keluarga Mohamad Ali. Bantuan beras lima kilogram yang sesekali diperoleh dari pihak tertentu bahkan harus dibagi dengan beberapa keluarga lain yang sama-sama berada dalam kondisi kekurangan.

Ketika beras tak lagi tersedia, talas yang tumbuh di sekitar kebun dan hutan menjadi pilihan untuk mengisi perut ia dan keluarganya.

“Kadang beras lima kilo harus dibagi beberapa kepala keluarga. Kalau sudah tidak ada beras, kami mencari talas untuk dimasak dan dimakan bersama keluarga,” tuturnya.

Di balik perjuangan memenuhi kebutuhan makan, terselip kekhawatiran lain yang tak kalah besar, masa depan pendidikan anak.

Mohamad Ali mengaku anaknya hingga kini belum pernah mendapatkan bantuan beasiswa berupa PIP. Padahal, bantuan tersebut sangat dibutuhkan untuk meringankan beban keluarga dalam memenuhi perlengkapan dan kebutuhan belajar anak.

“Anak saya juga belum pernah mendapatkan bantuan beasiswa seperti PIP, yang sudah kelas lima sekarang. Padahal anak-anak yang lain yang kehidupannya sama seperti kami bisa mendapatkan beasiswa,” katanya.

Ia berharap pemerintah daerah dan instansi terkait dapat kembali melakukan verifikasi serta pendataan terhadap warga yang belum tersentuh program bantuan sosial.

Bagi Mohamad Ali, perhatian pemerintah bukan hanya tentang bantuan berupa beras atau kebutuhan pokok. Lebih dari itu, ia berharap ada jalan yang dapat membantu keluarganya keluar dari keterbatasan dan memberi kesempatan kepada anaknya untuk terus bersekolah.

Kisah Mohamad Ali menjadi potret kecil dari perjuangan keluarga yang masih menunggu hadirnya perhatian negara. Di balik angka dan data penerima bantuan, ada keluarga yang setiap hari berusaha bertahan, menambatkan harapan pada uluran tangan pemerintah.

Di tengah segala keterbatasan itu, harapan mereka tetap sederhana, dapat makan dengan layak, menyekolahkan anak, dan menjalani kehidupan yang lebih baik. (Ardi)

News Feed