PENASULAWESI.COM, JAKARTA — Mengikuti International Grand Imams Conference (IGIC) 2026, Pimpinan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rayyan Kapiroe, Yahya Y.A. Landua, S.Ag., M.M., menyoroti pentingnya lembaga pendidikan pesantren membekali santri dengan kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
IGIC 2026 merupakan konferensi internasional yang mempertemukan para imam besar, mufti, dan tokoh agama dunia untuk membahas berbagai isu keagamaan, termasuk peran masjid dalam membangun keharmonisan, diplomasi keagamaan, dan perdamaian global.
Kegiatan tersebut berlangsung di Hotel Bidakara dan Hotel Grand Sahid Jaya, Jakarta, pada 25–28 September 2026.
Yahya Landua yang juga Ketua PD IPIM Kabupaten Sigi menjadi salah satu peserta dalam kegiatan internasional tersebut. Menurutnya, keikutsertaan dalam forum yang dihadiri tokoh-tokoh agama dari berbagai negara memberikan pengalaman sekaligus inspirasi mengenai pentingnya kemampuan bahasa asing bagi generasi muda Islam.
“Dalam kegiatan dunia seperti ini, sangat penting keberadaan pondok pesantren yang dapat melahirkan generasi penghafal Al-Qur’an dan menguasai dua bahasa, Arab dan Inggris, dalam perkembangan dunia Islam secara global,” ujar Yahya.
Ia mengungkapkan, kemampuan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris bukan sekadar pelengkap dalam pendidikan pesantren. Kemampuan tersebut, kata dia, menjadi bekal penting bagi santri untuk berkomunikasi dan membangun jejaring dengan masyarakat internasional.
Pengalaman mengikuti IGIC juga membuatnya melihat secara langsung tantangan komunikasi yang dapat dihadapi seseorang ketika berada dalam forum internasional.
“Apabila ada peserta tidak memahami Bahasa Arab dan Bahasa Inggris, pasti sangat kesulitan melakukan audiensi dengan para peserta imam besar masjid dunia,” katanya.
Karena itu, Yahya mengatakan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rayyan Kapiroe sejak awal mengembangkan pendidikan tahfidz yang ditunjang dengan pembelajaran Bahasa Arab dan Bahasa Inggris.
Menurutnya, konsep pendidikan tersebut diarahkan untuk mencetak generasi penghafal Al-Qur’an yang tidak hanya memiliki kemampuan keagamaan, tetapi juga mempunyai keterampilan komunikasi yang dapat menunjang kiprah mereka di tingkat nasional maupun internasional.
Ia berharap para lulusan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rayyan Kapiroe nantinya memiliki kesempatan lebih luas untuk melanjutkan pendidikan ke luar negeri.
Selain itu, penguasaan Bahasa Arab dan Bahasa Inggris diharapkan dapat menjadi modal bagi para alumni untuk memasuki dunia kerja, termasuk memperoleh peluang di perusahaan asing yang beroperasi di Indonesia maupun di luar negeri.
“Harapannya, para santri lulusan Pondok Pesantren Tahfidzul Qur’an Ar Rayyan Kapiroe dapat menjadi generasi Qur’ani yang memiliki kemampuan bahasa asing, sehingga mampu melanjutkan pendidikan dan berkiprah lebih luas di tingkat internasional,” harap Yahya. (Ardi)















