
PENASULAWESI.COM, SIGI — Harga sejumlah komoditas peternakan di Pasar Tangarava, Kabupaten Sigi, terpantau pada Rabu (16/9/2026). Berdasarkan hasil pemantauan Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sigi, harga sapi hidup tercatat sebesar Rp15 juta per ekor, sedangkan harga daging sapi berada di kisaran Rp130 ribu per kilogram.
Untuk komoditas ayam, harga ayam broiler tercatat Rp55 ribu per ekor, sementara ayam kampung dijual sekitar Rp100 ribu per ekor.
Adapun harga telur ayam ras berada di angka Rp55 ribu per rak. Sementara telur ayam kampung dan telur itik masing-masing tercatat Rp75 ribu per rak. Sedangkan telur puyuh dijual dengan harga Rp55 ribu per rak.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sigi, Rahmad Iqbal Nurkhalis, mengatakan pemantauan harga dilakukan untuk mengetahui perkembangan harga komoditas peternakan yang beredar di masyarakat.
Menurut Rahmad, pendataan harga dilakukan secara rutin pada hari pasar. Untuk sementara, pemantauan dilakukan di empat pasar tradisional, yakni Pasar Biromaru, Marawola, Maranatha, dan Dolo.
“Untuk sementara petugas kami baru mendata empat pasar tersebut,” kata Rahmad Iqbal, Rabu (23/9/2026).
Ia menjelaskan, data yang dihimpun tidak hanya digunakan untuk memantau perkembangan harga, tetapi juga menjadi salah satu bahan bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pasokan komoditas peternakan.
Melalui pemantauan secara berkala, pemerintah dapat mengetahui lebih awal apabila terjadi perubahan harga yang cukup signifikan di tingkat pasar.
Informasi tersebut selanjutnya dapat menjadi bahan pertimbangan pemerintah dalam menentukan langkah yang diperlukan, termasuk memperlancar distribusi, mengevaluasi rantai pasok, maupun melaksanakan intervensi pasar seperti pasar murah.
“Ini juga menjadi bagian penting dalam pengendalian inflasi daerah,” ujarnya.
Selain untuk menjaga stabilitas harga, pendataan tersebut diharapkan dapat memberikan manfaat bagi peternak dan konsumen. Informasi harga yang tersedia secara transparan dapat membantu peternak mengetahui perkembangan harga di pasar sehingga memiliki gambaran dalam menentukan harga jual komoditasnya.
Di sisi konsumen, informasi tersebut dapat menjadi acuan untuk mengetahui perkembangan harga berbagai komoditas peternakan di pasar.
Rahmad menambahkan, data harga yang dihimpun juga dapat digunakan sebagai bahan dalam perumusan kebijakan dan perencanaan pembangunan sektor peternakan, termasuk untuk menganalisis rantai nilai (value chain) komoditas peternakan.
Analisis rantai nilai memungkinkan pemerintah melihat perkembangan harga pada setiap mata rantai perdagangan, mulai dari peternak, pedagang hingga pengecer. Dengan demikian, pemerintah dapat mengetahui margin pada masing-masing mata rantai sekaligus melihat apakah distribusi harga berlangsung secara wajar.
“Pemantauan yang saat ini dilakukan masih mencakup empat pasar, yakni Biromaru, Marawola, Maranatha dan Dolo. Pendataan di pasar tradisional lainnya akan menyesuaikan dengan pelaksanaan pemantauan oleh petugas Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Kabupaten Sigi,” tambahnya. (Ardi)









