
PENASULAWESI.COM, SIGI – Di tengah hiruk-pikuk kehidupan masyarakat Kabupaten Sigi, ada sosok yang selalu hadir, tak sekedar hadir secara fisik, tetapi hadir dengan hati. Irma Yangka, figur NasDem yang dikenal tak kenal lelah, kerap turun membaur, mendengar, dan merasakan denyut kehidupan warga dari dekat.
Bagi Irma, politik bukanlah panggung untuk pamer janji, melainkan ladang pengabdian yang tumbuh dari ketulusan. Setiap langkahnya di desa, setiap senyum yang ia bagi, adalah wujud nyata dari komitmennya untuk menjadi suara rakyat yang sesungguhnya.
Ia berjalan di antara warga dengan santun, menunduk untuk mendengar, dan menatap mata mereka yang berharap. Dari perbincangan ringan di sudut sudut dusun, hingga dialog serius di balai desa, Irma menyerap setiap keluh kesah, setiap aspirasi, seakan membawa pulang beban yang bukan hanya milik mereka, tetapi juga miliknya.
“Turun langsung ke masyarakat adalah cara saya memahami mereka, bukan hanya dari data atau laporan, tetapi dari kehidupan nyata yang mereka jalani,” ujar Irma, dengan senyum yang selalu menenangkan hati orang-orang di sekitarnya.
Sikapnya yang hangat dan tulus membuatnya bukan sekedar wakil rakyat, tetapi teman dan sahabat bagi warga. Di tangan Irma, aspirasi masyarakat bukan sekedar suara yang hilang di ruang rapat, tetapi menjadi cerita yang dibawa dan diperjuangkan hingga ke meja pengambil kebijakan.
Dedikasinya tak mengenal lelah. Dari pagi hingga senja, dari satu desa ke desa lain, Irma terus bergerak. Ia percaya, perubahan yang nyata lahir dari kerja nyata, bukan dari retorika.
Kehadiran Irma di tengah masyarakat adalah bukti bahwa politik bisa menjadi seni pengabdian, di mana ketulusan dan keikhlasan menjadi warna utama. Masyarakat pun merasakan kehadirannya bukan sekadar simbol, tetapi energi yang menggerakkan.
Mereka yang dulu merasa suaranya tenggelam, kini menemukan ruang untuk didengar. Dan di situlah kekuatan Irma Yangka, figur NasDem yang tak kenal lelah, tetap turun membaur, dan hadir sebagai cermin ketulusan politik yang berpihak pada rakyat. (*)










