PENASULAWESI.COM, SIGI,- Anggota Komisi II DPRD Sigi, Jalil, bersama Fadlin, melakukan kunjungan kerja ke Danau Lindu pada Kamis hingga Jumat (15/8/2025). Kunjungan ini bertujuan untuk mengidentifikasi kebenaran rumor tentang adanya ikan predator di danau tersebut, yang diduga menjadi penyebab turunnya populasi ikan mujair.

“Keberadaan ikan predator di Danau Lindu ini diduga telah menyebabkan penurunan ukuran ikan mujair. Sebelumnya, ikan mujair di danau ini terkenal dengan ukurannya yang besar dan jumbo, namun sekarang ukurannya sudah jauh lebih kecil.” terangnya.
Ia mengungkapkan bahwa predator ikan lele di Danau Lindu merupakan predator puncak yang cukup besar, dengan salah satu hasil pancingan yang diakui warga mencapai berat 20 kilogram.
Untuk mengatasi masalah ini, Jalil mengusulkan beberapa solusi. Untuk membudidayakan ikan di Danau Lindu, mereka akan mengadopsi sistem jaring terapung sebagai alternatif jika predator tidak dapat diatasi, dan akan berkoordinasi dengan pemangku adat untuk memastikan keselarasan dengan nilai-nilai lokal.
Yang lebih mengkhawatirkan lanjut Jalil, katakan, adalah persoalan limbah berupa limbah deterjen, limbah rumah tangga, dan pertisida yang diduga sudah mencemari danau Lindu. Hal ini tentu dapat mempengaruhi kualitas dan kelestarian air di danau tersebut.
Ditambahkan, bahwa air di Danau Lindu yang menjadi habitat ikan mujair ini perlu di jaga kemurniannya, agar ekosistem danau tetap seimbang dan ikan mujair dapat tumbuh dengan baik dan sehat, serta potensi sumber daya alam danau bisa kita gunakan secara berkelanjutan.
“Untuk mengatasi limbah yang mengalir ke danau itu, alternatif lain adalah membuat saluran khusus ke muara danau, sehingga limbah tidak lagi mencemari air danau dan dapat langsung mengalir ke sungai atau laut tanpa merusak ekosistem danau,” terangnya. (Ardi)










