Tawa dan Ceria Para Ibu Bersama Irma Yangka Usai Penyaluran PIP di SD Inpres Balongga

PENASULAWESI.COM, SIGI  – Matahari menebar sinarnya yang hangat, menari di antara daun-daun pepohonan yang menaungi halaman SD Inpres Balongga. Jarum jam menunjukkan pukul 11.00, dan suara tawa serta canda memenuhi ruang kelas dan halaman.

Anak-anak berlarian kecil, sesekali berhenti menatap ibu mereka menerima sertifikat piagam PIP, sementara suasana yang sebelumnya formal perlahan berubah menjadi hangat, ceria, dan sarat kebahagiaan.

Irma Yangka, Koordinator PIP Aspirasi Nilam Sari Lawira Zona Kabupaten Sigi, tampak duduk di salah satu bangku, di samping para ibu. Ia tersenyum lebar, menepuk pundak beberapa orang, dan sesekali menunduk untuk menyapa anak-anak yang ikut hadir.

Sertifikat piagam bergambar Nilam Sari Lawira diserahkan satu per satu, tapi momen itu tak sekadar seremonial, setiap senyum dan tawa menyiratkan rasa syukur yang tulus.

“Alhamdulillah, ada lagi untuk beli perlengkapan sekolah anak-anak. Senangnya kami tidak bisa kami gambarkan!” ujar Rosmawati, seorang ibu, sambil tertawa kecil.

Di suasana itu Ibu-ibu lain ikut saling bertukar cerita lucu tentang kehidupan sehari-hari, dari memasak, mengantar anak sekolah, hingga mencoba membuat anak-anak tetap semangat belajar. Irma menatap hangat interaksi itu.

“Melihat kebahagiaan mereka langsung, itu yang membuat semua usaha kami terasa berarti. Senang bisa berbagi momen ini,” katanya sambil tersenyum, menepuk pundak seorang ibu yang baru saja menerima piagam.

Kepala SD Inpres Balongga, Sapran, menambahkan bahwa momen seperti ini bukan sekadar soal bantuan finansial. “Ini soal kebersamaan dan semangat positif yang tercipta di antara orang tua, anak, dan kami di sekolah,” ujarnya, sambil menatap para ibu yang masih bergurau ringan.

Para ibu saling memberi semangat, berbagi tips mendidik anak, bahkan beberapa saling menertawakan pengalaman lucu mereka. Anak-anak menempel di sekitar orang tua mereka, sesekali ikut berceloteh dan menambah riuh rendah suasana.

Di sela-sela canda tawa, tampak rasa syukur dan harapan yang nyata, setiap senyum, setiap tepukan tangan, adalah do’a untuk masa depan anak-anak mereka.

Salah seorang ibu menutup momen itu dengan senyum lebar, menatap piagam di tangannya. “Hari ini bukan cuma soal PIP, tapi soal kebahagiaan yang bisa kita rasakan bersama,” ujarnya.

Hari itu, SD Inpres Balongga bukan hanya menjadi saksi penyaluran bantuan pendidikan, tetapi juga panggung kecil bagi tawa, cerita, dan optimisme, di mana ibu, anak, dan guru berbagi satu momen penuh kehangatan yang akan dikenang lama. (Ardi)