

penasulawesi.com, SIGI — Cahaya lampu panggung berpendar di tepian Danau Lindu. Alunan musik mengisi udara malam, mengiringi ribuan warga yang memadati lokasi penutupan Festival Danau Lindu. Di bawah langit yang cerah, malam terakhir perhelatan tahunan itu berlangsung meriah sekaligus hangat.
Di tengah antusiasme masyarakat, perhatian tertuju pada deretan pejabat yang memilih tidak berada di area kehormatan. Bupati Sigi Mohamad Rizal Intjenae didampingi Ketua TP-PKK Kabupaten Sigi Hj. Siti Halwiyah, Wakil Bupati Samuel Yansen Pongi, Sekretaris Daerah Nuim Hayat, Ketua DPRD Sigi Minhar, serta Wakil Ketua MPR RI Abcandra Muhammad Akbar Supratman tampak duduk bersila di atas tikar bersama warga, menikmati jalannya acara hingga penampilan musisi nasional Enau sebagai penutup festival.
Suasana itu menghadirkan pemandangan yang berbeda dari seremoni pemerintahan pada umumnya. Tanpa sekat yang mencolok, para pejabat dan masyarakat menikmati hiburan dari ruang yang sama. Tepuk tangan, nyanyian, dan sorak penonton berpadu menjadi satu, menciptakan suasana yang akrab sepanjang malam.
Bagi sebagian warga, momen tersebut menjadi pengalaman yang berkesan. Tidak sedikit yang mengabadikan kebersamaan itu melalui telepon genggam, sementara yang lain memilih menikmati setiap penampilan sambil bercengkerama bersama keluarga dan kerabat.
Festival Danau Lindu malam itu tidak hanya menjadi panggung hiburan, tetapi juga ruang pertemuan bagi berbagai lapisan masyarakat. Pelaku seni menampilkan karya terbaiknya, pelaku UMKM melayani pengunjung yang memadati area festival, sementara masyarakat menikmati rangkaian acara yang telah berlangsung selama beberapa hari.
Keindahan Danau Lindu yang membentang tenang menambah daya tarik suasana. Pantulan cahaya di permukaan air berpadu dengan semilir angin pegunungan dan irama musik yang mengalun, menghadirkan malam yang meninggalkan kesan bagi para pengunjung.
Kehadiran Bupati Mohamad Rizal Intjenae, Wakil Bupati Samuel Yansen Pongi, dan jajaran pejabat lainnya di tengah masyarakat menjadi bagian dari rangkaian penutupan festival. Momen itu memperlihatkan interaksi yang berlangsung tanpa banyak formalitas, ketika pemimpin dan masyarakat menikmati acara dalam suasana yang sama.
Penutupan Festival Danau Lindu pun tidak hanya menandai berakhirnya rangkaian kegiatan budaya dan hiburan, tetapi juga menyisakan potret kebersamaan di tepian danau. Di tempat itu, ribuan warga berkumpul, menikmati musik, berbagi cerita, dan merayakan malam penutup festival dalam suasana yang hangat.
Dari tepian Danau Lindu, festival tahun ini meninggalkan kesan bahwa sebuah perayaan tidak hanya diingat karena kemeriahan panggungnya, tetapi juga karena momen-momen sederhana yang lahir dari kedekatan antarsesama. (Redaksi)









